Aku
Trauma Jatuh Cinta
Betapa
naifnya diriku ini, menyangka bahwa setelah lulus SMA kehidupanku akan tetap
bahagia. Namun, ternyata tidak seperti itu.
“Maaf, ya,
mulai sekarang kamu nggak perlu lagi bantuin aku nugas, ya. Terima kasih untuk
semua.” Erna berkata demikian, lantas pergi dari hadapanku. Sehari sebelumnya,
dia kukasih kabar bahwa aku gagal lolos menjadi taruna AAL. Maka, aku berpikir
bahwa itulah yang menyebabkan dia meninggalkanku. Sejak saat itulah, kita
sepakat untuk lost contact.
***
“Eh,
Vin. Lo mau denger sesuatu nggak?” Reza tiba-tiba nyeletuk di tengah permainan
UNO kami. Aku menatapnya penasaran.
“Sesuatu
apaan, Za?”
“Itu…
tentang Erna,” aku membulatkan mataku, lantas aku buru-buru memainkan kartu
karena sudah giliranku main.
“Eh?
Tolong, apa, Za?” Aku meminta dengan sopan.
“Jadi
gini… Gue kemarin sore mampir ke Starbucks. Niat awal gue, gue tuh mau take
away. Tapi berhubung gue gak sengaja ngelihat ada Erna, akhirnya gue dine
in, deh. Gue duduk membelakangi mereka. Jadinya mereka nggak ngeh kalau ada
gue di meja itu. Seinget gue, mereka bilang gini,
“Untung,
ya? Si Kevin itu belum nembak lo. Atau belum jadi pacar lo. Coba kalo kalian
udah pacaran, ribet kan, putusnya gimana?” Julia, sahabat Erna dari SD,
mengutarakan pendapatnya.
“Eh
lo yakin ninggalin si Kevin? Padahal orangnya baik banget lho. Masa hanya
gara-gara gugur AAL lu tinggalin sih? Dia tuh butuh support, Na.” Rina,
sahabatnya yang diam-diam suka Kevin pas SMA, mengingatkan kembali tentang attitude
Kevin.
“Ya
suka-suka gue dong, Rin. Biarinlah, gue mau sama laki-laki yang udah jelas masa
depannya aja, titik.” Erna gamblang mengungkapkan tipe laki-laki idamannya.
Rina terlihat tidak puas.
“Lo
emangnya nggak mau nemenin Kevin dari nol? Kita juga kan, nggak tau rezeki apa
yang nantinya Allah beri ke kita.” Rina membela Kevin.
PROK
PROK PROK. Erna bertepuk tangan pelan agar tidak mengganggu pengunjung lainnya,
“Iya, Ibu Ustazah Rina. Saya sebenarnya sih pengin. Tapi tetep, gue milih sama
yang masa depannya udah jelas aja.” Erna tersenyum tipis.
“Lo
nggak mikir apa? Kevin bisa aja trauma untuk jatuh cinta?” Rina belum menyerah.
“Hah?
Emangnya itu masalah gue?” Erna menaikkan bahunya.
Mereka
pulang setelah salah satu dari mereka mengangkat panggilan telepon.
Kita
kembali ke masa ini, “Kurang lebih begitulah, Vin, garis besarnya.” Reza
menyelesaikan ceritanya.
“UNO!”
Geri tiba-tiba berteriak. Sial, aku tidak fokus main UNO, Geri sudah 2x menang
beruntun. Tapi nggak apalah, info dari Reza tadi sangat penting.
“Terima
kasih banyak, ya, Za. Kalau gue lolos UTBK nanti gue traktir deh.” Aku berkata
tulus.
Aku
Balas Dendam
Alhamdulillah,
aku lolos UTBK di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UNDIP. Selama 4 tahun, hidupku
kufokuskan hanya untuk kuliah dan organisasi. Aku bodo amat masalah jatuh
cinta. Hingga akhirnya aku diwisuda bertepatan dengan pembukaan CPNS. Kulihat
daftar instansi yang formasinya membutuhkan S-1 Akuntansi dan alhamdulillah
ada. Yaitu instansi Kejaksaan Agung RI yang membuka total 130 formasi Auditor
Ahli Pertama.
Alhamdulillah,
setelah mengikuti rangkaian proses seleksi dengan kesungguhan hati bahwa ini
semua demi keluargaku. Ibu, Ayah, Adik, dan calon istriku kelak. Tiga bulan
berikutnya aku diterima menjadi CPNS. Aku langsung sujud syukur, alhamdulillah,
terima kasih banyak, ya Allah.
Saat
mulai mendapat gaji, sebagian kuberikan ke Ibu dan sebagian lain gajinya,
kutabung untuk keperluan menikah. Jadi biar pas dapat jodoh, dia tinggal terima
bersih
Tak lama setelah 3 tahun bekerja,
alhamdulillah aku mendapatkan jodoh sama-sama plat H. Jadi tidak sia-sia aku
mengirimkan motorku ke Sulawesi saat tugas pertama, karena itu bagian dari doaku
agar diberi jodoh sama-sama orang yang asli plat H.
Istriku katanya bersyukur sekali memiliki
saya, padahal sayalah yang sangat bersyukur mendapat jodoh seperti engkau.
“Terima
kasih, ya, Mas. Sudah berkenan memilih Adik menjadi istri Mas Kevin.” Zaskia
menunduk dalam kepadaku. Aku jadi malu rasanya.
“Eh,
kan, udah aku bilangin dari setelah akad, kalau aku sangat bersyukur punya
istri sepertimu, Yang. Solehah, nggak neko-neko, sederhana, gemar menabung, dan
tentunya,” aku mendekatkan mulut ke kupingnya, “berseragam.” Aku tertawa hingga
mataku seolah-hilang hilang. Dia tersipu malu, wajahnya sudah mirip kepiting
rebus.
Begitulah
kehidupan. Kadang memang ada kejutan di balik tiap-tiap manusia. Mungkin yang
sebelumnya gagal berkali-kali pada suatu cita-cita. Belum tentu dia gagal di cita-cita
yang lain, boleh jadi malahan dia sukses besar di situ.
-Dimastafta 2022
Komentar
Posting Komentar