EPISODE 一
AWAL YANG MENYEDIHKAN
"HUH. Kenapa jadi
begini?" Dengusanku dengan nada sedih campur sebal tersebut keluar sesaat setelah
aku melihat pengumuman resmi salah satu perguruan tinggi kedinasan tentang
moratorium. Sesaat hatiku terasa sakit mengetahui hal tersebut. Karena sudah
sejak kelas 11 SMA aku menginginkan, sebenarnya bukan aku tetapi Ibuku. Beliau
menginginkankuーsebagai anak sulung, laki pula, harus langsung kerja
setelah pendidikanーuntuk masuk ke salah satu kedinasan
tersebut, aku tanpa ragu juga menyetujuinya. Karena sudah sepatutnya sebagai
anak harus berbakti selama tidak disuruh melakukan perbuatan tercela.
Saat kelas 11 SMA awal Beliau sudah mencari info tentang tempat les yang
nantinya untuk memudahkan tes masuk sekolah kedinasan tersebut. Setelah naik
kelas 12 aku langsung didaftarkan oleh Ibuku. Aku juga mengikuti perintah Ibu
walaupun harus pulang-pergi antarkota, tapi demi masa depan aku senang
menjalaninya.
Tibalah hari menjelang pengumuman pendaftaran tes sekolah kedinasan. Memang
sejak awal kelihatannya mereka tidak membuka sekolah kedinasan yang kutuju
tersebut, bahkan teman seangkatanku juga sudah ada yang tahu. Tetapi alih-alih
untuk menenangkannya aku mengatakan "Jangan percaya dulu, siapa tahu
rumor belaka."
Pada hari-H keluarlah surat pengumuman terkait pembukaan pendaftaran tes
masuk sekolah kedinasan. Di barisan awal surat aku tenang sekali membacanya
hingga pada paragraf terakhir halaman pertama tatapanku terhenti. Bahwa
Pemerintah diminta untuk membuka beberapa sekolah kedinasan lain. Sedangkan
Kementerian X menutup pendaftaran mahasiswa baru. Entah apa yang kurasakan saat
itu. Sedih, kecewa, marah, dan kaget semuanya campur aduk menjadi satu. Aku
yang biasanya selalu bersikap tenang mendadak kehabisan ketenangan.
Aku memutuskan untuk segera istirahat daripada harus meratapi kenyataan
yang tidak dapat diubah. Aku juga mengecek sebentar Twitter ternyata juga ramai
membahas hal tersebut. Tak lama setelah itu, aku pun tertidur menghilangkan
segala kesedihan dan kekecewaan.
Keesokan harinya, aku terbangun dengan kondisi hati yang masih kacau.
Kemudian aku mengecek official account salah satu sekolah kedinasan
tersebut belum mengeluarkan pernyataan. Alih-alih untuk menenangkan diri
mungkin masih ada harapan untuk tidak gap-year, tetapi aku tidak terlalu
berharap.
Kemudian siang harinyaーtepatnya 7 Mei 2020ーaku membuka Instagram dan
mengecek official account-nya ternyata benar! Mereka mengonfirmasi surat
tersebut dengan mengunggah file 'Siaran Pers Penundaan SPMB' tanpa
basa-basi aku langsung mengunduhnya. Setelah membukanya ternyata terdapat
beberapa poin alasan tidak membuka pendaftaran. Poin karena pandemi COVID-19
kurang bisa saya terima hingga mataku tertuju pada poin 3 yaitu sedang ada
masalah penempatan lulusan sekolah kedinasan tersebut. "Oke, kalau ini
bisa saya terima." pendapatku dalam batin.
Entah Ibuku sudah mengetahuinya apa belum. Tapi mungkin kalau saya beritahu
Beliau tidak percaya. Oke, aku akan mengirimkan surat resmi Siaran Pers
tersebut ke Ibu. Di luar dugaanku, Ibuku ternyata menanggapi dengan percaya, tetapi ada sedikit ragu. Ibuku kemudian mengeluarkan suara.
"Ya sudah enggak papa, Nak, lagi pula saat ini masih pandemi. Kalau gitu
ikut seleksi tes perguruan tinggi negeri aja, Nak." Ucap Ibuku dengan
tenang tetapi terselip sedikit kesedihan. Bapak yang juga ada di situ juga
menimpali.
"Lho. nggak ke sekolah kedinasan lain aja? Kan masih banyak."
Jawab Bapakku dengan sedikit terheran.
Aku jelas terdiam merenung mendengarkan percakapan Beliau-Beliau karena aku
bingung apa yang harus kulakukan setelah ini. Oke. Karena aku mendengar update
bahwa tahun ini nanti seleksi tes perguruan tinggi negeri hanya 1 materi yang
terdiri 4 sub-test kedengarannya tidak begitu menakutkan. "Aku
pasti bisa." Ujarku dalam batin.
Sesaat setelah memutuskan mengikuti tes perguruan tinggi negeri aku segera
mengakses salah satu online shop dan membeli beberapa buku untuk
persiapan tes tersebut.
EPISODE 二
Hari yang Ditunggu Telah Tiba
AKU menyeruput secangkir
teh hangat siap menyambut datangnya mentari. Hari ini 5 Juli 2020, hari yang
telah kutunggu selama kurang lebih 3 bulan. Aku mendapatkan hari pertama, sesi
pertama pula yaitu pukul 09.00 WIB. Pagi ini aku berusaha menenangkan diri agar
saat ujian nanti tidak terlalu gugup. Tidak hanya menyeruput teh saja, sesekali
jariku juga membalik halaman novel “Komet Minor” Serial Bumi karya Om Tere
Liye.
Setelah 30 menit berlalu, aku selesai
mandi dan sarapan, mengenakan batik dengan celana kain hitam panjang bersiap
berangkat. Tidak lupa masker selalu kugunakan saat keluar rumah, kapan pun dan
di mana pun. Malam harinya aku bilang kepada Bapak kalau besok aku berangkat
bawa motor sendiri saja, tetapi Beliau menolak mentah-mentah izinku. Beliau
bilang besok aku akan diantar Bapak dan sekeluarga juga ikutーIbu dan
ketiga adikku. Aku juga membawa beberapa buku latihan TPS
(Tes Potensial Skolastik), alat tulis dan yang terpenting berkas-berkas
persyaratan mengikuti ujian seperti, Surat Keterangan Lulus, Kartu Peserta Tes,
KTP, dan Surat Keterangan Sehatーmaaf yang satu ini aku
tidak bawa.
***
DIN!
DIN! Seketika buku yang aku baca hampir terlempar. Sebelum aku bertanya kepada
Bapak di sebelahku yang mengemudi, aku lebih dulu melihat ke depan. Ternyata ada
bis pagi yang berhenti sembarangan menyebabkan macet, padahal baru jam 06.10
WIB. Belum lama setelah kejadian tadi, setengah jam berikutnya mobil kami
berhenti, maju merayap kemudian berhenti kembali. “Duh. Kenapa lagi ini.
Padahal masih pagi juga.” Gerutuku dalam hati. Bapakku terlihat tenang
mungkin beliau tahu penyebab macet ini. Sedangkan di kepalaku masih dipenuhi
rasa penasaran penyebab macet ini.
Hampir satu jam barulah aku menemukan
jawabannya yaitu ada perbaikan jalan. Tadi yang dua lajur, kini menjadi satu lajur.
Benar dugaanku Bapak sudah mengetahuinya dari awal beliau sengaja mengambil
sisi kiri sehingga tidak perlu bingung berganti lajur saat akan melewati
perbaikan jalan. Syukurlah. Perjalanan kami lancar kembali. Memasuki
jalur tol jalanan lengang, maklum masih pagi batinku.
Akhirnya tiba di gerbang masuk area
Universitas Diponegoro. Karena belum pernah ke sini jadi aku sedikit kagum saat
melihat area ini. Wah Luas Banget. Benar, itu impresi pertamaku tapi
meskipun begitu jika dilihat wajahku tetap datar, tidak terlihat seperti orang
sedang kagum. Setelah beberapa menit
memutari area yang luas ini, kami akhirnya sampai di Fakultas Hukum Gedung H.
“Dimas, nanti ngerjainnya santai saja,
jangan terlalu tegang. Nanti malah lupa rumusnya apa.” Ibu menyamangatiku. Aku jadi teringat saat akan melaksanakan UN
SMP kalau mendengar kata-kata Ibu tadi.
“Iya jangan lupa berdoa juga sebelum
mengerjakan agar dimudahkan Allah.” Tambah Bapakku.
“Baik Pak, Bu. Dimas akan mengerjakan
sebisa Dimas, ya. Kalau tidak lolos nanti, tolong jangan marahi Dimas, ya.”
Ucapku pelan dengan nada penuh kegelisahan dan kesedihan.
“Eh! Kamu jangan ngomong begitu, Dimas.
Ibu sama Bapak tidak akan marah kok, palingan cuma nyuruh kamu membersihkan WC.
Hehehe bercanda. Apapun hasilnya nanti, lolos atau tidak lolos kamu tetap
menjadi anak kami Dim, Ibu dan Bapak.
Jadi, tidak usah berkecil hati dahulu. Kamu harus semangat mengerjakannya,
sebisanya, masalah lolos tidak lolos itu urusan belakangan. Pokoknya kamu harus
semangat dulu, jangan sedih, jangan grogi ya anakku.” Seperti biasa Ibuku
memang cerewet, tetapi terkadang ada beberapa ceramah Beliau yang bijak.
Aku terdiam sejenak tidak dapat membalas ceramah Ibu.
Aku mengangguk pelan.
“Iya Bu, Dimas akan berusaha.” Aku tersenyum
sambil menahan sedikit air mata yang akan keluar.
Aku berpamitan kepada Ibu, Bapak, dan
memohon doa restu kepada beliau berdua. Doakan anakmu ini ya Bu, Pak.
Aku terlebih dahulu menatap mobil orang tuaku hingga hilang di kelokan jalan.
Kemudian aku jalan sekitar 100 meter tiba di pintu gedung yang menghadap serong
kanan ke jalan, aku menyempatkan mencuci tangan karena di sekitarnya ada
wastafel. Setelah kulihat lebih dekat pintunya. Ternyata bukan ini pintu masuk
ujiannyaーmungkin kalau hari biasa dibuka, tetapi
berhubung ini hanya ujian dan ada pandemi COVID-19 jadi ditutup.
Di tembok ada panah ke kiri, aku mengikutinya menuju ke belakang sebelah kiri gedung. Aku butuh berjalan sekitar 20 meter hingga tiba di pintu tersebut. Sampai di depan pintu terdapat informasi nomor meja. Aku melihat sejenak, takut apabila namaku tidak tertera di situ. Oh, ternyata ada, meja nomor 10. Kampusnya masih sepi saat aku datang. Aku tidak membawa jam tangan dan handphoneーsejak dari rumahーjadi aku tidak tahu sekarang jam berapa. Hanya ada beberapa petugas kebersihan dan satpam kampus mengenakan protokol kesehatanーkarena masih pandemi, jadi wajib menerapkan protokol kesehatanーlengkap dengan face shield dan masker.
ADUH! Tiba-tiba aku kebelet buang air
kecil, padahal aku belum tahu di mana kamar kecilnya. Aku memutuskan untuk
menemui salah satu satpam di pintu depan yang pertama aku temukan saat tiba di
sini, karena di pintu samping kiri sini masih sepi.
“Pak, permisi, apakah boleh masuk ke ruangan
sekarang? Saya mau ke toiー”
Belum sempat menghabiskan kata-kataku
Pak Satpam langsung memotongnya.
“Maaf belum boleh, Nak. Kamu lihat, ini
masih jam 08.05 Nak. Masih sekitar 1 jam lagi.”
Pak satpam membalas dengan terburu-buru
sambil menunjuk jam tangannya. Mungkin masih banyak yang perlu disiapkan,
pikirku.
Huh. Padahal aku kebelet banget. Aku
memutuskan untuk mengitari gedung tersebut barangkali ada toilet yang dapat dimasuki
tanpa masuk ke dalam gedung tersebut. Setengah jam berlalu, aku tidak menemukan
ada tanda-tanda toilet di luar ruangan bahkan aku sampai berjalan ke gedung
sebelahーGedung FISIPーjuga
tidak ada. Ah! Bagaimana ini! Kenapa aku kebelet di waktu yang tidak tepat.
Padahal tadi sepanjang perjalanan aku juga minum air putih hanya sedikit saja.
Tidak
ada pilihan lain. Sambil menahan rasa ingin buang air kecil dengan kekuatan
yang tersisa, aku memutuskan untuk berbicara dengan satpam yang baru muncul di
pintu sisi kiri gedung.
“Permisi Pak, apakah saya boleh ke toilet
sebentar, Pak?” Tanyaku dengan sopan.
“Oh boleh, Dik, silakan masuk, nanti
dari pintu langsung ke kiri, di ujung sana ada toilet.” Pak satpam menjawab
ringkas.
“Terima kasih, Pak, tapi ini kan belum
mulai apakah boleh?”
“Sebentar aja to? Gak masalah dek.”
“Terima kasih, Pak.” Aku buru-buru
membungkuk sedikit dan langsung masuk pintu tersebut menuju toilet.
Fiuh, akhirnya lega. Aku
kemudian kembali ke pintu masuk tadi, membukanya perlahan dan saat keluar aku
langsung melepasnya. BRAK! Aku langsung menoleh arah suara itu. Eh, ternyata
asalnya dari pintu yang kubuka tadi, aku langsung salah tingkah membenarkan
pintu tadi, karena kebetulan di pintu tadi masih ada kunci yang menggantung
dengan kumpulan kunci lainnya. Aku kira ada semacam penahan pintu saat keluar,
ternyata tidak ada. Dibuat pelajaran di kemudian hari saja.
Aku
duduk di taman sebelah kiri sisi gedung tadiーtaman
ini juga menghubungkan antara wilayah FISIP dan Hukumー, di
situ banyak sekali satu set seperti bangku piknik terbuat dari kayu, terdiri
dari dua bangku panjang dengan satu meja di tengahnya. Aku mengambil sembarang
buku TPS, lalu mulai membacanya dan sesekali mengerjakan tanpa menulisーdikerjakan
langsung di pikiran. Lama menunggu aku tidak tahu sekarang sudah pukul berapa
karena sama sekali tidak membawa jam tangan dan handphoneーkarena
di tata tertib dua barang tersebut dilarang, lebih baik sejak awal aku tinggal
saja di rumah.
Sejenak aku termangu, tiba-tiba datang
belasan orang mengenakan tas, lengkap dengan masker, satu dua orang ada yang
memakai face shield. Eh, ini dari mana datangnya. Tiba-tiba muncul di
sini saja. Ternyata, belasan orang tersebut berbaris di depan pintu sisi
kiri gedung bersiap masuk ruangan. Aku tanpa basa-basi memasukkan buku ke dalam
tas dan ikut antre baris paling belakang.
“Cih, padahal seharusnya aku paling depan.”
Gumamku kesal dalam batin.
Sesuai protokol kesehatan, kami
mencuci tangan dengan sabun terlebih dahuluーaku
memutuskan mencuci tangan lagi. Kemudian dicek suhu kita baru masuk ruangan.
Eh, ternyata kami tidak masuk ke pintu tadi, melainkan naik melalui tangga di
samping luar ruangan. Kami menuju lantai 3 Ruang Lab. Komputer. Kami masih
harus menunggu sebelum masuk ke Ruang Lab Komputer hingga nomor meja kami
dipanggil satu per satu.
Sebelum tes sungguhan dimulai, kami
diberi kesempatan untuk memilih latihan tryout terlebih dahuluーmemang
diharuskan. Alih-alih mengerjakan soal, ternyata hanya petunjuk langkah-langkah
melaksanakan tes. Kami serempak selesai telah melakukan latihan tadi. Barulah
para pengawas berkeliling melakukan pengecekan berkas yang kami bawa. Para
peserta yang didatangi pengawas disuruh membuka masker sebentar untuk mengecek
wajah kami sama atau tidak dengan foto di KTP ataupun kartu peserta tes.
Akhirnya tiba giliranku dicek, aku
membuka masker sejenak lalu menutup kembali.
“Eh, kamu tidak bawa Surat Keterangan Sehat
ya?” Tanya pengawas tersebut.
Duh, bagaimana ini. “Eh. Maaf
tidak, Pak.” Aku menjawabnya sedikit kikuk sambil tersenyum. Sebenarnya dia
masih muda sekitar 20 tahunan tapi untuk menjaga kesopanan aku memanggilnya
Pak.
Pengawas selesai melakukan pengecekan
berkas seluruh peserta tes tidak luput satu anak pun. Mulailah pengawas
memerintahkan kami mengeklik ‘Tes UTBK’, setelah itu pengawas juga
memberitahukan token tesーtanpa itu kami tidak bisa masuk
mengerjakan soal. Setelah memasukkan token aku klik Next, Boom. Aku
tersentak kaget ternyata langsung masuk ke soal. Tanpa basa-basi aku langsung kerjakan
saja, hitung-hitung untuk menghemat waktu juga.
***
Saat sedang enak-enaknya membaca soal,
layar perlahan berubah putih dan menyisakan satu kalimat. Internet
connection lost. Refleks aku langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi secepat
kilat disusul peserta lain di ruangan tersebut. “Pak, koneksinya terputus.”
Salah satu peserta berseru pelan. Aku yang hendak berbicara mengurungkan niat
karena sudah diwakilkan. Yah nasib hari pertama sesi pertama harus siap dengan
problem seperti ini. Kata pengawas koneksinya trouble seluruh
Indonesia, entah benar atau tidak aku percaya saja karena mereka panitia.
Hampir setengah jam menunggu, pengawas berkeliling dan memberitahu. “Coba di-refresh.
Tekan Alt + F5.” Tampilan monitor Loading dan kembali lagi di
soal terakhir yang kubaca tadi, waktunya juga tidak berkurang.
Satu jam berlalu aku telah melibas 3 sub-test
tinggal 1 sub-test lagi, aku semakin bersemangat. Pada layar
komputer tertulis bahwa sub-test selanjutnya adalah Pengetahuan
Kuantitatif, aku percaya diri karena kemampuanku selama ini dalam mengerjakan latihan
soal bisa dibilang baik. Kalaupun lebih sulit sedikit dari buku-buku latihanku
mungkin aku bisa 50% lancar mengerjakan tes ini. Namun.
Aku
salah menyangka. Soal-soal pada sub-test Pengetahuan Kuantitatif ini 180
derajat berbeda tipe dengan buku-buku yang kugunakan untuk latihan tiga bulan
terakhir. Hal ini menyebabkanku tidak dapat menjawab cepat, terlalu fokus pada
salah satu soal dan berusaha menyelesaikannya hingga lupa jika waktu terus
berjalan. Akhirnya dari puluhan soal tersebut hanya satu saja yang aku yakin
jawabannya benar, sisanya mengandalkan keberuntungan. Oke, sudah terlewati
berarti sudah seleー. Mataku terbelalak, ternyata
masih ada 1 sub-test berarti total ada 5 sub-test. Tidak ada
waktu untuk mengeluh, aku langsung membaca soalnya kemudian teks ceritanya.
Kebetulan sub-test terakhir ini Bahasa Inggris tetapi waktunya hanya 11
menit dengan 10 soal. Aku sebenarnya lebih percaya diri jika waktunya ditambah
tapi apa boleh buat.
Akhirnya aku menyelesaikannya. Aku
langsung mengambil botol air putih yang kubawa dari rumah yang sedari tadi
sudah kuletakkan di meja ujian. Aku merebahkan punggung ke kursi putar ujian
sambil menunggu pengawas memperbolehkan kami untuk keluar ruangan. Pukul 12.15
WIB kulihat jam dinding di ruangan ujian, pengawas memperbolehkan kami
meninggalkan ruangan. Aku langsung mengambil tas yang kutaruh di lantai depanーtempat dosen
mengajarーlalu memelesat keluar ruangan, aku cemas
kalau orang tuaku telah menunggu sejak tadi.
Setibanya di mobil, belum sempat
mengambil minum dari samping tasku. Aku langsung diwawancarai Ibu. Bapak fokus
mengemudi tetapi sesekali menoleh ke arahku dan Ibu.
“Sudah selesai, ya? Tadi gimana
mengerjakannya, Nak? Lancar?” Tanya Ibuku halus.
“Eh. Sudah Bu. Tapi, Dimas nggak yakin
dengan hasil tesnya. Tadi ada beberapa soal yang tipenya berbeda dengan
buku-buku latihan yang Dimas kerjain. Dimas minta maaf ya, Bu.” Aku menjawab
pelan dengan wajah memelas.
“Tidak usah minta maaf terus, Dimas.
Dari tadi pagi kok minta maaf terus. Mau Ibu suruh ngebersihin WC? Kan tadi
pagi sudah bilang, apapun hasilnya Ibu tidak marah.” Ibu menjelaskan dengan
penuh kasih sayang. Bapak yang sedari tadi fokus menyetir juga ikut dalam
percakapan.
“Tidak lolos enggak papa, MasーBapak
memang sering memanggil Mas daripada Dim. Kan masih ada Ujian Mandiri, nanti
ikut saja itu.” Timpal Bapakku dengan tatapan tetap ke depan fokus ke jalan.
“Eh, tapi kan, biaー”
“Kamu nggak usah mikir masalah itu.
Itu urusan Ibu sama Bapak, Mas. Kamu yang penting sekolah aja, tugasmu
sekolah.”
Belum sempat menyelesaikan hingga
akhir kalimat, Bapak seakan sudah tahu maksudku dan langsung menyela. Tetapi
biaya uang gedung jalur Ujian Mandiri itu mahal sekali. Aku tidak ingin
menambah beban orang tua lagi, karena selama ini aku sudah menyusahkan orang
tua sekali. Diam-diam aku tetap pada pendirianku yaitu apabila tidak lolos
nanti gap-year. Aku menunggu hingga hari pengumuman hasil tes masuk
universitas negeri tiba.
EPISODE
三
Hasil yang Sudah Terduga
AKHIRNYA
tiba juga hari pengumuman hasil tes masuk universitas negeriーtepatnya
14 Agustus 2020ーyang sangat kutunggu-tunggu. Ah,
sebenarnya tidak juga. Aku juga tidak berdebar-debar karena aku sudah
sangat yakin apa hasil pengumuman tes yang kukerjakan pada 5 Juli 2020 kemarin.
Oke.
Tanpa pikir panjang aku langsung membuka laptop dan segera mengakses website
pengumuman tersebut. Betul, pengumumannya secara online. Alih-alih
karena ada pandemi COVID-19, aku berpikir mungkin sejak dulu sudah mengumumkan
secara online. Yah, padahal aku suka datang langsung menatap papan
pengumuman di universitas. Ya, walaupun aku benci keramaian, setidaknya aku
bisa datang lebih awal sambil menghirup segarnya udara pagi.
Tak lupa aku menyiapkan kartu peserta tes
karena untuk melihat hasil pengumumannya membutuhkan nomor peserta tes.
Setelah aku selesai mengisi nomor peserta ujian dan tanggal lahir. Click.
Sesaat mataku terbelalak, seolah tidak
percaya pada kenyataan ini. Ternyata muncul di layar... upss 'Can't reach
the server--Access timeout.' "Huh. Kenapa sih seperti ini lagi?"
Aku menggerutu dalam batin. Hal seperti ini juga aku temukan saat mendaftar tes
itu. Harus menunggu kurang lebih setengah jam baru bisa diakses. Kalaupun dapat
diakses, nanti di tahap selanjutnya tiba-tiba kembali ke awalーtampilan
login akun. Ya mau bagaimana lagi yang mengakses para pelajar di seluruh
Indonesia. Jadi, aku harus bersabar.
Selang 30 menit berlalu, aku menutup novel
yang tadi kugunakan untuk menghilangkan rasa sebal. Kemudian berusaha
mengaksesnya lagiーyang dari tadi aku refresh
terus-menerus tetap saja timeoutーdan segera secepat kilat
mengulang mengisi nomor
perserta dan tanggal lahir lagi,
entah berapa kali aku sudah mengisi data tersebut, mungkin sudah 5 kali atau
bahkan lebih. Ah, aku tidak menghitungnya.
Pada tampilan layar laptop menunjukkan
tanda-tanda berhasilーsedikit demi sedikit
wajahku membentuk senyuman tipisーmengakses website.
Dan, Sreet. Gerakan scroll jari telunjukku terhenti dan di
tampilan layar laptopku terpampang sebuah kotak yang bertuliskan "JANGAN PUTUS ASA DAN TETAP SEMANGAT!"
Seketika jantungku serasa berhenti. "Eh.
Kenapa aku jadi terbawa suasana begini?! Padahal aku kan sudah tahu kalau akan
begini hasilnya." Berusaha menceramahi diri dalam hati. Entah karena
efek terkejut atau apalah, aku sedikit kecewa tetapi setelah itu merasa puas
karena sudah tahu hasil pastinya. Tetapi wajahku kelihatannya masih seperti
orang syok.
"Sudah. Tidak usah terlalu dipikirkan,
Nak." Ujar Ibuku.
Seketika aku mengedikkan bahu. Alih-alih
terkejut, sebenarnya aku hanya ingin merilekskan tubuhku. Ya ampun, sejak kapan
Ibu ke sini, batinku. Aku mengangguk pelan.
"Iya, Bu. Aku tahu itu." Jawabku bersuara
rendah.
Aku menjawabnya sambil menahan tawa
getirku. Memang ekspresiku mengenaskan tapi kalau Ibu sampai terbawa suasana
juga rasanya membuatku ingin tertawa. Terlebih lagi, siapa juga yang terlalu
memikirkan hal tersebut. Apa gunanya menyesali sesuatu yang sudah terjadi?
Lagi pula aku juga sudah menyepakati janji dengan diriku sendiri bahwa aku
harus memotong rambutーyang awalnya lurus pendek
sekarang jadi panjang menggelombangーini apabila diterima di
universitas negeri tersebut. Apabila tidak diterima aku juga suka karena dapat memanjangkan rambut
(agar seperti anak Jepang), tetapi aku memutuskan tahun depan harus potong.
Setidaknya Masih untung Ibu tidak marah, aku pikir Ibu akan langsung mengunciku
di kamar mandi setelah mengetahui pengumuman ini. Mungkin Ibu tidak sampai hati
melihat wajah anaknya yang murung, apabila dihukum nanti akan bertambah murung.
ーSelesaiー
(2020)
*apabila pada tahun
berikutnya terjadi suatu peristiwa yang mengesankan akan saya usahakan untuk
melanjutkan cerita ini dalam “EPISODE 四”.
Author : Dimastafta
Editor
: 真白雪
Komentar
Posting Komentar