Langsung ke konten utama

Hanya Sebuah Catatan Perjalanan Seseorang yang Lulus Tahun 2020

 

EPISODE

AWAL YANG MENYEDIHKAN

 

"HUH. Kenapa jadi begini?" Dengusanku dengan nada sedih campur sebal tersebut keluar sesaat setelah aku melihat pengumuman resmi salah satu perguruan tinggi kedinasan tentang moratorium. Sesaat hatiku terasa sakit mengetahui hal tersebut. Karena sudah sejak kelas 11 SMA aku menginginkan, sebenarnya bukan aku tetapi Ibuku. Beliau menginginkankusebagai anak sulung, laki pula, harus langsung kerja setelah pendidikanuntuk masuk ke salah satu kedinasan tersebut, aku tanpa ragu juga menyetujuinya. Karena sudah sepatutnya sebagai anak harus berbakti selama tidak disuruh melakukan perbuatan tercela.

Saat kelas 11 SMA awal Beliau sudah mencari info tentang tempat les yang nantinya untuk memudahkan tes masuk sekolah kedinasan tersebut. Setelah naik kelas 12 aku langsung didaftarkan oleh Ibuku. Aku juga mengikuti perintah Ibu walaupun harus pulang-pergi antarkota, tapi demi masa depan aku senang menjalaninya.

Tibalah hari menjelang pengumuman pendaftaran tes sekolah kedinasan. Memang sejak awal kelihatannya mereka tidak membuka sekolah kedinasan yang kutuju tersebut, bahkan teman seangkatanku juga sudah ada yang tahu. Tetapi alih-alih untuk menenangkannya aku mengatakan "Jangan percaya dulu, siapa tahu rumor belaka."

Pada hari-H keluarlah surat pengumuman terkait pembukaan pendaftaran tes masuk sekolah kedinasan. Di barisan awal surat aku tenang sekali membacanya hingga pada paragraf terakhir halaman pertama tatapanku terhenti. Bahwa Pemerintah diminta untuk membuka beberapa sekolah kedinasan lain. Sedangkan Kementerian X menutup pendaftaran mahasiswa baru. Entah apa yang kurasakan saat itu. Sedih, kecewa, marah, dan kaget semuanya campur aduk menjadi satu. Aku yang biasanya selalu bersikap tenang mendadak kehabisan ketenangan.

Aku memutuskan untuk segera istirahat daripada harus meratapi kenyataan yang tidak dapat diubah. Aku juga mengecek sebentar Twitter ternyata juga ramai membahas hal tersebut. Tak lama setelah itu, aku pun tertidur menghilangkan segala kesedihan dan kekecewaan.

Keesokan harinya, aku terbangun dengan kondisi hati yang masih kacau. Kemudian aku mengecek official account salah satu sekolah kedinasan tersebut belum mengeluarkan pernyataan. Alih-alih untuk menenangkan diri mungkin masih ada harapan untuk tidak gap-year, tetapi aku tidak terlalu berharap.

Kemudian siang harinyatepatnya 7 Mei 2020aku membuka Instagram dan mengecek official account-nya ternyata benar! Mereka mengonfirmasi surat tersebut dengan mengunggah file 'Siaran Pers Penundaan SPMB' tanpa basa-basi aku langsung mengunduhnya. Setelah membukanya ternyata terdapat beberapa poin alasan tidak membuka pendaftaran. Poin karena pandemi COVID-19 kurang bisa saya terima hingga mataku tertuju pada poin 3 yaitu sedang ada masalah penempatan lulusan sekolah kedinasan tersebut. "Oke, kalau ini bisa saya terima." pendapatku dalam batin.

Entah Ibuku sudah mengetahuinya apa belum. Tapi mungkin kalau saya beritahu Beliau tidak percaya. Oke, aku akan mengirimkan surat resmi Siaran Pers tersebut ke Ibu. Di luar dugaanku, Ibuku ternyata menanggapi dengan percaya, tetapi ada sedikit ragu. Ibuku kemudian mengeluarkan suara.

 

"Ya sudah enggak papa, Nak, lagi pula saat ini masih pandemi. Kalau gitu ikut seleksi tes perguruan tinggi negeri aja, Nak." Ucap Ibuku dengan tenang tetapi terselip sedikit kesedihan. Bapak yang juga ada di situ juga menimpali.

 

"Lho. nggak ke sekolah kedinasan lain aja? Kan masih banyak." Jawab Bapakku dengan sedikit terheran.

 

Aku jelas terdiam merenung mendengarkan percakapan Beliau-Beliau karena aku bingung apa yang harus kulakukan setelah ini. Oke. Karena aku mendengar update bahwa tahun ini nanti seleksi tes perguruan tinggi negeri hanya 1 materi yang terdiri 4 sub-test kedengarannya tidak begitu menakutkan. "Aku pasti bisa." Ujarku dalam batin.

Sesaat setelah memutuskan mengikuti tes perguruan tinggi negeri aku segera mengakses salah satu online shop dan membeli beberapa buku untuk persiapan tes tersebut.

 

 

 

 

 

EPISODE

Hari yang Ditunggu Telah Tiba

 

        AKU menyeruput secangkir teh hangat siap menyambut datangnya mentari. Hari ini 5 Juli 2020, hari yang telah kutunggu selama kurang lebih 3 bulan. Aku mendapatkan hari pertama, sesi pertama pula yaitu pukul 09.00 WIB. Pagi ini aku berusaha menenangkan diri agar saat ujian nanti tidak terlalu gugup. Tidak hanya menyeruput teh saja, sesekali jariku juga membalik halaman novel “Komet Minor” Serial Bumi karya Om Tere Liye.

          Setelah 30 menit berlalu, aku selesai mandi dan sarapan, mengenakan batik dengan celana kain hitam panjang bersiap berangkat. Tidak lupa masker selalu kugunakan saat keluar rumah, kapan pun dan di mana pun. Malam harinya aku bilang kepada Bapak kalau besok aku berangkat bawa motor sendiri saja, tetapi Beliau menolak mentah-mentah izinku. Beliau bilang besok aku akan diantar Bapak dan sekeluarga juga ikutIbu dan ketiga adikku. Aku juga membawa beberapa buku latihan TPS (Tes Potensial Skolastik), alat tulis dan yang terpenting berkas-berkas persyaratan mengikuti ujian seperti, Surat Keterangan Lulus, Kartu Peserta Tes, KTP, dan Surat Keterangan Sehatmaaf yang satu ini aku tidak bawa.

 

 

 

***

 

 

 

            DIN! DIN! Seketika buku yang aku baca hampir terlempar. Sebelum aku bertanya kepada Bapak di sebelahku yang mengemudi, aku lebih dulu melihat ke depan. Ternyata ada bis pagi yang berhenti sembarangan menyebabkan macet, padahal baru jam 06.10 WIB. Belum lama setelah kejadian tadi, setengah jam berikutnya mobil kami berhenti, maju merayap kemudian berhenti kembali. “Duh. Kenapa lagi ini. Padahal masih pagi juga.” Gerutuku dalam hati. Bapakku terlihat tenang mungkin beliau tahu penyebab macet ini. Sedangkan di kepalaku masih dipenuhi rasa penasaran penyebab macet ini.

          Hampir satu jam barulah aku menemukan jawabannya yaitu ada perbaikan jalan. Tadi yang dua lajur, kini menjadi satu lajur. Benar dugaanku Bapak sudah mengetahuinya dari awal beliau sengaja mengambil sisi kiri sehingga tidak perlu bingung berganti lajur saat akan melewati perbaikan jalan. Syukurlah. Perjalanan kami lancar kembali. Memasuki jalur tol jalanan lengang, maklum masih pagi batinku.

          Akhirnya tiba di gerbang masuk area Universitas Diponegoro. Karena belum pernah ke sini jadi aku sedikit kagum saat melihat area ini. Wah Luas Banget. Benar, itu impresi pertamaku tapi meskipun begitu jika dilihat wajahku tetap datar, tidak terlihat seperti orang sedang kagum. Setelah beberapa  menit memutari area yang luas ini, kami akhirnya sampai di Fakultas Hukum Gedung H.

         

“Dimas, nanti ngerjainnya santai saja, jangan terlalu tegang. Nanti malah lupa rumusnya apa.” Ibu menyamangatiku. Aku jadi teringat saat akan melaksanakan UN SMP kalau mendengar kata-kata Ibu tadi.

         

“Iya jangan lupa berdoa juga sebelum mengerjakan agar dimudahkan Allah.” Tambah Bapakku.

         

          “Baik Pak, Bu. Dimas akan mengerjakan sebisa Dimas, ya. Kalau tidak lolos nanti, tolong jangan marahi Dimas, ya.” Ucapku pelan dengan nada penuh kegelisahan dan kesedihan.

 

          “Eh! Kamu jangan ngomong begitu, Dimas. Ibu sama Bapak tidak akan marah kok, palingan cuma nyuruh kamu membersihkan WC. Hehehe bercanda. Apapun hasilnya nanti, lolos atau tidak lolos kamu tetap menjadi anak kami  Dim, Ibu dan Bapak. Jadi, tidak usah berkecil hati dahulu. Kamu harus semangat mengerjakannya, sebisanya, masalah lolos tidak lolos itu urusan belakangan. Pokoknya kamu harus semangat dulu, jangan sedih, jangan grogi ya anakku.” Seperti biasa Ibuku memang cerewet, tetapi terkadang ada beberapa ceramah Beliau yang bijak.

 

          Aku terdiam sejenak tidak dapat membalas ceramah Ibu. Aku mengangguk pelan.

 

“Iya Bu, Dimas akan berusaha.” Aku tersenyum sambil menahan sedikit air mata yang akan keluar.

 

          Aku berpamitan kepada Ibu, Bapak, dan memohon doa restu kepada beliau berdua. Doakan anakmu ini ya Bu, Pak. Aku terlebih dahulu menatap mobil orang tuaku hingga hilang di kelokan jalan. Kemudian aku jalan sekitar 100 meter tiba di pintu gedung yang menghadap serong kanan ke jalan, aku menyempatkan mencuci tangan karena di sekitarnya ada wastafel. Setelah kulihat lebih dekat pintunya. Ternyata bukan ini pintu masuk ujiannyamungkin kalau hari biasa dibuka, tetapi berhubung ini hanya ujian dan ada pandemi COVID-19 jadi ditutup.

          Di tembok ada panah ke kiri, aku mengikutinya menuju ke belakang sebelah kiri gedung. Aku butuh berjalan sekitar 20 meter hingga tiba di pintu tersebut. Sampai di depan pintu terdapat informasi nomor meja. Aku melihat sejenak, takut apabila namaku tidak tertera di situ. Oh, ternyata ada, meja nomor 10. Kampusnya masih sepi saat aku datang. Aku tidak membawa jam tangan dan handphonesejak dari rumahjadi aku tidak tahu sekarang jam berapa. Hanya ada beberapa petugas kebersihan dan satpam kampus mengenakan protokol kesehatankarena masih pandemi, jadi wajib menerapkan protokol kesehatanlengkap dengan face shield dan masker.

          ADUH! Tiba-tiba aku kebelet buang air kecil, padahal aku belum tahu di mana kamar kecilnya. Aku memutuskan untuk menemui salah satu satpam di pintu depan yang pertama aku temukan saat tiba di sini, karena di pintu samping kiri sini masih sepi.

         

“Pak, permisi, apakah boleh masuk ke ruangan sekarang? Saya mau ke toi

          Belum sempat menghabiskan kata-kataku Pak Satpam langsung memotongnya.

 

          “Maaf belum boleh, Nak. Kamu lihat, ini masih jam 08.05 Nak. Masih sekitar 1 jam lagi.”

          Pak satpam membalas dengan terburu-buru sambil menunjuk jam tangannya. Mungkin masih banyak yang perlu disiapkan, pikirku.

          Huh. Padahal aku kebelet banget. Aku memutuskan untuk mengitari gedung tersebut barangkali ada toilet yang dapat dimasuki tanpa masuk ke dalam gedung tersebut. Setengah jam berlalu, aku tidak menemukan ada tanda-tanda toilet di luar ruangan bahkan aku sampai berjalan ke gedung sebelahGedung FISIPjuga tidak ada. Ah! Bagaimana ini! Kenapa aku kebelet di waktu yang tidak tepat. Padahal tadi sepanjang perjalanan aku juga minum air putih hanya sedikit saja.

          Tidak ada pilihan lain. Sambil menahan rasa ingin buang air kecil dengan kekuatan yang tersisa, aku memutuskan untuk berbicara dengan satpam yang baru muncul di pintu sisi kiri gedung.

         

   “Permisi Pak, apakah saya boleh ke toilet sebentar, Pak?” Tanyaku dengan sopan.

               “Oh boleh, Dik, silakan masuk, nanti dari pintu langsung ke kiri, di ujung sana ada toilet.” Pak satpam menjawab ringkas.

                “Terima kasih, Pak, tapi ini kan belum mulai apakah boleh?”

                “Sebentar aja to? Gak masalah dek.”

                “Terima kasih, Pak.” Aku buru-buru membungkuk sedikit dan langsung masuk pintu tersebut menuju toilet.

         

              Fiuh, akhirnya lega. Aku kemudian kembali ke pintu masuk tadi, membukanya perlahan dan saat keluar aku langsung melepasnya. BRAK! Aku langsung menoleh arah suara itu. Eh, ternyata asalnya dari pintu yang kubuka tadi, aku langsung salah tingkah membenarkan pintu tadi, karena kebetulan di pintu tadi masih ada kunci yang menggantung dengan kumpulan kunci lainnya. Aku kira ada semacam penahan pintu saat keluar, ternyata tidak ada. Dibuat pelajaran di kemudian hari saja.

         Aku duduk di taman sebelah kiri sisi gedung taditaman ini juga menghubungkan antara wilayah FISIP dan Hukum, di situ banyak sekali satu set seperti bangku piknik terbuat dari kayu, terdiri dari dua bangku panjang dengan satu meja di tengahnya. Aku mengambil sembarang buku TPS, lalu mulai membacanya dan sesekali mengerjakan tanpa menulisdikerjakan langsung di pikiran. Lama menunggu aku tidak tahu sekarang sudah pukul berapa karena sama sekali tidak membawa jam tangan dan handphonekarena di tata tertib dua barang tersebut dilarang, lebih baik sejak awal aku tinggal saja di rumah.

        Sejenak aku termangu, tiba-tiba datang belasan orang mengenakan tas, lengkap dengan masker, satu dua orang ada yang memakai face shield. Eh, ini dari mana datangnya. Tiba-tiba muncul di sini saja. Ternyata, belasan orang tersebut berbaris di depan pintu sisi kiri gedung bersiap masuk ruangan. Aku tanpa basa-basi memasukkan buku ke dalam tas dan ikut antre baris paling belakang.

“Cih, padahal seharusnya aku paling depan.” Gumamku kesal dalam batin.

          Sesuai protokol kesehatan, kami mencuci tangan dengan sabun terlebih dahuluaku memutuskan mencuci tangan lagi. Kemudian dicek suhu kita baru masuk ruangan. Eh, ternyata kami tidak masuk ke pintu tadi, melainkan naik melalui tangga di samping luar ruangan. Kami menuju lantai 3 Ruang Lab. Komputer. Kami masih harus menunggu sebelum masuk ke Ruang Lab Komputer hingga nomor meja kami dipanggil satu per satu.

          Sebelum tes sungguhan dimulai, kami diberi kesempatan untuk memilih latihan tryout terlebih dahulumemang diharuskan. Alih-alih mengerjakan soal, ternyata hanya petunjuk langkah-langkah melaksanakan tes. Kami serempak selesai telah melakukan latihan tadi. Barulah para pengawas berkeliling melakukan pengecekan berkas yang kami bawa. Para peserta yang didatangi pengawas disuruh membuka masker sebentar untuk mengecek wajah kami sama atau tidak dengan foto di KTP ataupun kartu peserta tes.

         Akhirnya tiba giliranku dicek, aku membuka masker sejenak lalu menutup kembali.

         

  “Eh, kamu tidak bawa Surat Keterangan Sehat ya?” Tanya pengawas tersebut.

          Duh, bagaimana ini. “Eh. Maaf tidak, Pak.” Aku menjawabnya sedikit kikuk sambil tersenyum. Sebenarnya dia masih muda sekitar 20 tahunan tapi untuk menjaga kesopanan aku memanggilnya Pak.

 

          Pengawas selesai melakukan pengecekan berkas seluruh peserta tes tidak luput satu anak pun. Mulailah pengawas memerintahkan kami mengeklik ‘Tes UTBK’, setelah itu pengawas juga memberitahukan token testanpa itu kami tidak bisa masuk mengerjakan soal. Setelah memasukkan token aku klik Next, Boom. Aku tersentak kaget ternyata langsung masuk ke soal. Tanpa basa-basi aku langsung kerjakan saja, hitung-hitung untuk menghemat waktu juga.

 

 

 

***

 

 

 

      Saat sedang enak-enaknya membaca soal, layar perlahan berubah putih dan menyisakan satu kalimat. Internet connection lost. Refleks aku langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi secepat kilat disusul peserta lain di ruangan tersebut. “Pak, koneksinya terputus.” Salah satu peserta berseru pelan. Aku yang hendak berbicara mengurungkan niat karena sudah diwakilkan. Yah nasib hari pertama sesi pertama harus siap dengan problem seperti ini. Kata pengawas koneksinya trouble seluruh Indonesia, entah benar atau tidak aku percaya saja karena mereka panitia. Hampir setengah jam menunggu, pengawas berkeliling dan memberitahu. “Coba di-refresh. Tekan Alt + F5.” Tampilan monitor Loading dan kembali lagi di soal terakhir yang kubaca tadi, waktunya juga tidak berkurang.

          Satu jam berlalu aku telah melibas 3 sub-test tinggal 1 sub-test lagi, aku semakin bersemangat. Pada layar komputer tertulis bahwa sub-test selanjutnya adalah Pengetahuan Kuantitatif, aku percaya diri karena kemampuanku selama ini dalam mengerjakan latihan soal bisa dibilang baik. Kalaupun lebih sulit sedikit dari buku-buku latihanku mungkin aku bisa 50% lancar mengerjakan tes ini. Namun.

          Aku salah menyangka. Soal-soal pada sub-test Pengetahuan Kuantitatif ini 180 derajat berbeda tipe dengan buku-buku yang kugunakan untuk latihan tiga bulan terakhir. Hal ini menyebabkanku tidak dapat menjawab cepat, terlalu fokus pada salah satu soal dan berusaha menyelesaikannya hingga lupa jika waktu terus berjalan. Akhirnya dari puluhan soal tersebut hanya satu saja yang aku yakin jawabannya benar, sisanya mengandalkan keberuntungan. Oke, sudah terlewati berarti sudah sele. Mataku terbelalak, ternyata masih ada 1 sub-test berarti total ada 5 sub-test. Tidak ada waktu untuk mengeluh, aku langsung membaca soalnya kemudian teks ceritanya. Kebetulan sub-test terakhir ini Bahasa Inggris tetapi waktunya hanya 11 menit dengan 10 soal. Aku sebenarnya lebih percaya diri jika waktunya ditambah tapi apa boleh buat.

          Akhirnya aku menyelesaikannya. Aku langsung mengambil botol air putih yang kubawa dari rumah yang sedari tadi sudah kuletakkan di meja ujian. Aku merebahkan punggung ke kursi putar ujian sambil menunggu pengawas memperbolehkan kami untuk keluar ruangan. Pukul 12.15 WIB kulihat jam dinding di ruangan ujian, pengawas memperbolehkan kami meninggalkan ruangan. Aku langsung mengambil tas yang kutaruh di lantai depantempat dosen mengajarlalu memelesat keluar ruangan, aku cemas kalau orang tuaku telah menunggu sejak tadi.

          Setibanya di mobil, belum sempat mengambil minum dari samping tasku. Aku langsung diwawancarai Ibu. Bapak fokus mengemudi tetapi sesekali menoleh ke arahku dan Ibu.

 

          “Sudah selesai, ya? Tadi gimana mengerjakannya, Nak? Lancar?” Tanya Ibuku halus.

          “Eh. Sudah Bu. Tapi, Dimas nggak yakin dengan hasil tesnya. Tadi ada beberapa soal yang tipenya berbeda dengan buku-buku latihan yang Dimas kerjain. Dimas minta maaf ya, Bu.” Aku menjawab pelan dengan wajah memelas.

          “Tidak usah minta maaf terus, Dimas. Dari tadi pagi kok minta maaf terus. Mau Ibu suruh ngebersihin WC? Kan tadi pagi sudah bilang, apapun hasilnya Ibu tidak marah.” Ibu menjelaskan dengan penuh kasih sayang. Bapak yang sedari tadi fokus menyetir juga ikut dalam percakapan.

 

          “Tidak lolos enggak papa, MasBapak memang sering memanggil Mas daripada Dim. Kan masih ada Ujian Mandiri, nanti ikut saja itu.” Timpal Bapakku dengan tatapan tetap ke depan fokus ke jalan.

          “Eh, tapi kan, bia

          “Kamu nggak usah mikir masalah itu. Itu urusan Ibu sama Bapak, Mas. Kamu yang penting sekolah aja, tugasmu sekolah.”

 

          Belum sempat menyelesaikan hingga akhir kalimat, Bapak seakan sudah tahu maksudku dan langsung menyela. Tetapi biaya uang gedung jalur Ujian Mandiri itu mahal sekali. Aku tidak ingin menambah beban orang tua lagi, karena selama ini aku sudah menyusahkan orang tua sekali. Diam-diam aku tetap pada pendirianku yaitu apabila tidak lolos nanti gap-year. Aku menunggu hingga hari pengumuman hasil tes masuk universitas negeri tiba.

           

 

 

EPISODE
Hasil yang Sudah Terduga


AKHIRNYA tiba juga hari pengumuman hasil tes masuk universitas negeritepatnya 14 Agustus 2020yang sangat kutunggu-tunggu. Ah, sebenarnya tidak juga. Aku juga tidak berdebar-debar karena aku sudah sangat yakin apa hasil pengumuman tes yang kukerjakan pada 5 Juli 2020 kemarin.

Oke. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka laptop dan segera mengakses website pengumuman tersebut. Betul, pengumumannya secara online. Alih-alih karena ada pandemi COVID-19, aku berpikir mungkin sejak dulu sudah mengumumkan secara online. Yah, padahal aku suka datang langsung menatap papan pengumuman di universitas. Ya, walaupun aku benci keramaian, setidaknya aku bisa datang lebih awal sambil menghirup segarnya udara pagi.

Tak lupa aku menyiapkan kartu peserta tes karena untuk melihat hasil pengumumannya membutuhkan nomor peserta tes. Setelah aku selesai mengisi nomor peserta ujian dan tanggal lahir. Click.

Sesaat mataku terbelalak, seolah tidak percaya pada kenyataan ini. Ternyata muncul di layar... upss 'Can't reach the server--Access timeout.' "Huh. Kenapa sih seperti ini lagi?" Aku menggerutu dalam batin. Hal seperti ini juga aku temukan saat mendaftar tes itu. Harus menunggu kurang lebih setengah jam baru bisa diakses. Kalaupun dapat diakses, nanti di tahap selanjutnya tiba-tiba kembali ke awaltampilan login akun. Ya mau bagaimana lagi yang mengakses para pelajar di seluruh Indonesia. Jadi, aku harus bersabar.

Selang 30 menit berlalu, aku menutup novel yang tadi kugunakan untuk menghilangkan rasa sebal. Kemudian berusaha mengaksesnya lagiyang dari tadi aku refresh terus-menerus tetap saja timeoutdan segera secepat kilat mengulang mengisi nomor perserta dan tanggal lahir lagi, entah berapa kali aku sudah mengisi data tersebut, mungkin sudah 5 kali atau bahkan lebih. Ah, aku tidak menghitungnya.

Pada tampilan layar laptop menunjukkan tanda-tanda berhasilsedikit demi sedikit wajahku membentuk senyuman tipismengakses website. Dan, Sreet. Gerakan scroll jari telunjukku terhenti dan di tampilan layar laptopku terpampang sebuah kotak yang bertuliskan "JANGAN PUTUS ASA DAN TETAP SEMANGAT!"

Seketika jantungku serasa berhenti. "Eh. Kenapa aku jadi terbawa suasana begini?! Padahal aku kan sudah tahu kalau akan begini hasilnya." Berusaha menceramahi diri dalam hati. Entah karena efek terkejut atau apalah, aku sedikit kecewa tetapi setelah itu merasa puas karena sudah tahu hasil pastinya. Tetapi wajahku kelihatannya masih seperti orang syok.

 

"Sudah. Tidak usah terlalu dipikirkan, Nak." Ujar Ibuku.

 

Seketika aku mengedikkan bahu. Alih-alih terkejut, sebenarnya aku hanya ingin merilekskan tubuhku. Ya ampun, sejak kapan Ibu ke sini, batinku. Aku mengangguk pelan.

 

"Iya, Bu. Aku tahu itu." Jawabku bersuara rendah.

 

Aku menjawabnya sambil menahan tawa getirku. Memang ekspresiku mengenaskan tapi kalau Ibu sampai terbawa suasana juga rasanya membuatku ingin tertawa. Terlebih lagi, siapa juga yang terlalu memikirkan hal tersebut. Apa gunanya menyesali sesuatu yang sudah terjadi? Lagi pula aku juga sudah menyepakati janji dengan diriku sendiri bahwa aku harus memotong rambutyang awalnya lurus pendek sekarang jadi panjang menggelombangini apabila diterima di universitas negeri tersebut. Apabila tidak diterima aku juga suka karena dapat memanjangkan rambut (agar seperti anak Jepang), tetapi aku memutuskan tahun depan harus potong. Setidaknya Masih untung Ibu tidak marah, aku pikir Ibu akan langsung mengunciku di kamar mandi setelah mengetahui pengumuman ini. Mungkin Ibu tidak sampai hati melihat wajah anaknya yang murung, apabila dihukum nanti akan bertambah murung.

Seperti yang kutulis di awal paragraf. Sebenarnya aku sudah sangat yakin akan menerima kartu merah (tanda tidak lolos), karena saat tes dimulai. Rasa percaya diriku tiba-tiba lenyap saat berhadapan dengan sub-test Pengetahuan Kuantitatif. Ditambah lagi waktunya yang begitu cepat berlalu. Setidaknya masih ada waktu belajar untuk persiapan tahun depan. Aku akan berusaha sekuat tenaga, Bu.

 

 

Selesai

 

 

(2020)


*apabila pada tahun berikutnya terjadi suatu peristiwa yang mengesankan akan saya usahakan untuk melanjutkan cerita ini dalam EPISODE ”.


Author  : Dimastafta

Editor   : 真白雪

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makhluk Rendahan

Setelah sekian pekan tidak hujan, malam itu turun hujan tidak terlalu deras. Aku meraih handphone yang kuletakkan di lemari, kemudian berjalan menuju sofa terdekat. Sambil memandangi hujan, aku terduduk membuka kata sandi handphone-ku. Tujuan awalku adalah untuk menyiram tanaman di salah satu aplikasi belanja online. Namun kemudian, aku tak sengaja membuka status teman seangkatan di WA. "Hmm, ada yang mengunggah foto/video dirinya berbingkaikan universitas pilihannya di IG." Gumamku dalam batin.   Aku penasaran! Andaikan ada mahasiswa yang tidak punya IG----seperti aku---apakah mahasiswa tersebut dipaksa untuk mengunggah juga. Rasanya tidak juga, eh, tapi mungkin juga ya. Hmmm... sulit untuk kusimpulkan sendiri. Mungkin kesimpulan yang paling tempat adalah tergatung dosen/petinggi universitas tersebut. Tapi, sebenarnya aku tidak pantas membicarakan ini, hanya saja untuk sampingan mengisi waktu sambil mendengarkan hujan. "Huh, ya. Manusia rendahan sepertiku---yang belum m...

Kebahagian adalah?

幸せとは "Apakah itu artinya  kebahagian ?" Tanya dia. "Entahlah, aku juga tidak mengerti apa yang kamu katakan barusan." Jawabku dengan menaikkan salah satu alis. "Yaudah yuk cari artinya di KBBI." Ajak dia. "Jadi, kamu percaya pengertian  kebahagian  dari KBBI?!" Aku bertanya dengan nada agak tinggi. "Ya sebenarnya definisi yang kudapat dari KBBI cuma buat di kuliah aja sih. Aku lebih suka memilih definisi  bahagia  dari dalam hatiku." Jawab dia. "Aku juga setuju, tetapi apapun definisi  kebahagiaan  dari dalam hatimu. Kamu harus tetap  SEMANGAT  menjalani hidup ya!" Balasku dengan agak semangat. -Dimastafta (2020)