Langsung ke konten utama

Hanya Percakapan Ringan antara Kakak dan Adik yang Memiliki Hobi Sama

ARGH. Sudah setengah jam aku terpaku menatap layar laptop. Awalnya aku sedang menulis cerita namun terhenti di tengah jalan karena kehabisan ide. Kemudian aku terdiam merenung, berharap ada ide yang datang, tetapi ide tersebut tak kunjung datang juga. Aku memutuskan untuk berkunjung ke kamar Adikku.

Adikku telah melaksanakan Ujian Seleksi Masuk SMA dan lolos. Syukurlah. Saat ini dia memiliki banyak waktu luang menunggu dimulainya pelajaran daring di awal masa SMA-nya ini. Kami sekeluarga juga sudah merayakan kelulusan Adikku tiga hari lalu, walaupun hanya di rumahkarena masih pandemi, Mama ingin merayakannya di rumah saja dengan masakan lezatnyatetapi tetap seru dan meriah.

Tiba di depan pintu kamar Adikku. Knok! Knok! “Dik. Ini Kakak. Kakak masuk ya?”

“Ya, masuk aja Kak!”

Aku membuka pintu perlahan dan mendapati Adikku sedang duduk di kursi belajarnya menatap layar laptop dengan serius.

“Eh, Dik Taniya sedang melakukan apa? Kelihatannya serius banget, nih?” Aku berusaha mendekatinya untuk melihat apa yang dikerjakannya. Oh, ternyata dia lagi menulis cerita juga.

“Ih. Nggak ngapa-ngapain Kak. Lha, Kak Tafta sendiri ke sini ngapain? Oh ya, Adik tahu. Kak Tafta pasti lagi kehabisan ide ya? Hayo mengaku?” Tebak Adikku, seakan-akan dia sudah tahu sebelum aku menjawabnya.

“Umm. Iya Dik Taniya, Kakak lagi kehabisan ide nih. Kok kamu tahu, dari mana?” Tanyaku balik.

“Ya gampang bangetlah Kak. Dari wajahmu saja kelihatan murung seperti orang terlilit utang. Terlebih lagi, Kakak kalau ke sini pasti kalau enggak menawari makan, menawari buku, pasti yang satunya gara-gara kehabisan ide hehehe.” Adikku tertawa pelan tangannya refleks terangkat menutupi mulutnya.

Aku memanfaatkan situasi ini, aku langsung menatap layarnya dengan cepat untuk melihat judulnya karena aku penasaran sekali.

“Lo, Dik Taniya. Itu kok judul cerita kamu “Kakakku Tergila-gila dengan Gadis Jepang”. Itu yang kamu maksud siapa?” Jelas saja aku tersinggung, karena selama ini aku selalu membuka video di Youtube tentang lagu-lagu berbahasa Jepang.

“Eh. Apaan sih, Kak. Kakak ke-GRan ih.”

“Jujur saja, Dik, Kakak tidak bakal marah kok.” Aku membujuknya secara halus. Seakan-akan apabila memberitahu aku akan membelikannya Bittersweet by Najla.

“Iya deh. Adik ngaku. Jujur itu memang terinspirasi dari Kakak. Lagian Kak Tafta mengapa melihat video cewek Jepang sampai sebegitunya. Halunya gak ketulungan. Hati-hati ya Kak, jangan sampai kelewat batas akal sehat.”

Tebakanku benar, itu tentang diriku. Sungguh menusuk lubuk hati paling dalam. Meskipun begitu, aku tetap sayang sama satu Adik Perempuanku ini. Jadi aku tidak akan marah.

“Huh. Iya deh nggak papa, kamu pakai buat inspirasi nulis cerita. Lagian apa kamu tidak suka punya kakak ipar orang Jepang, he?” Aku tersenyum tipis.

“Eh. Ya suka dong Kak. Jelas. Semoga saja Kak Tafta mendapatkan gadis Jepang yang pintar masak, berbakti pada orang tua dan mertua, dan yang lebih penting sayang sama adik iparnya. Hehehe.”

Adikku sepertinya tulus memujiku, aku tidak perlu memikirkan apakah itu ejekan atau pujian. Jelas dilihat dari raut wajahnya dia tulus menyampaikannya. Maklum aku sudah bertahun-tahun membaca raut wajah Adikku.

“Dik Taniya, omong-omong ada nggak buku yang ingin kamu beli? Nanti malam Kakak mau ke Gramedia. Kakak mau beli buku “Selena” dan “Nebula”karya Tere Liye.”

“Wah bagus itu Kak. Nanti Adik pinjam ya, kalau Kak Tafta selesai baca. Eh, tapi ini kan lagi pandemi Kak, nggak beli online saja Kak?” Dari raut wajahnya, itu wajah curiga. Mungkin dia sudah mengetahui hal lain.

“Ya, Kakak mau keluar sebentar. Sudah hampir 4 bulan Kakak di rumah terus.” Jawabku sedikit gugup.

“Oh. Adik tahu, Kakak pasti mau ke Kuil Buddha-Jepang juga kan? Dulu waktu Kakak masih kelas 12, sejak kakak menyukai Jepang. Adik nggak sengaja melihat Kakak berdiri termangu menatap Kuil Buddha-Jepang. Adik bener kan Kak?” Adikku riang sekali karena bisa menebak rahasia kecilku.

“Iya Adikku yang tersayang dan perhatian. Kamu benar, 120 buat kamu. Jadi titip buku nggak nih?” Aku kembali ke topik awal berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Umm. Kakak punya buku “Bone” karya Mijin Jungnggak?”

Adikku memang menyukai Korea Selatan. Aku dulu saat SMP pernah benci dengan Kpop. Namun, saat aku tahu Adikku ternyata suka akhirnya aku terpaksa tidak jadi membencinya. Demi Adikku tersayang satu ini.

“Nggak punya, Dik. Jadi, mau Kakak beliin buku itu? Ada buku lain yang ingin kamu beli lagi nggak?” tanyaku sekali lagi.

“Ah. cukup itu saja Kak. Nanti kan aku juga pinjam buku “Selena” dan “Nebula” Kakak. Kalau Kak Tafta sudah selesai membacanya. Hehe.” Jawab Adikku tertawa kecil dengan tangan menutupi mulutnya menjaga sopan.

“Siap Adikku tersayang,” tidak sengaja mataku tertuju pada lemari buku Adikku, lalu terpikirkan sesuatu. “Eh, Dik Taniya. Kamu punya bacaan bagus nggak?” Daripada menunggu ide yang tidak kunjung datang, aku berniat untuk membaca buku sejenak.

Adikku terlihat berpikir keras, terlihat seperti mengingat-ingat sesuatu.

“Adik punya roman “Anak Semua Bangsa”Karya Pramoeditya Ananta Toer. Adik tahu di lemari buku Kakak nggak ada roman ini kan? Bawa saja kak, ini serial kedua lanjutan dari “Bumi Manusia”. Jangan-jangan Kakak nggak tahu ya? Kalau “Bumi Manusia” masih berlanjut hingga tiga roman lagi?” Adikku melepas tatapan tajam ke arahku. Lagi-lagi dia berhasil menebakku. Pintar sekali Adikku ini.

“Iya Kakak nggak tahu. Kirain Kakak ceritanya tamat di “Bumi Manusia” dan tidak berlanjut lagi. Hehe.” Aku menjawabnya polos. Adikku menepuk dahinya pelan. Ya ampun. Aku tidak paham. Kenapa Kakakku bisa sampai tidak tahu hal ini. Mungkin itu yang dikatakannya dalam batin.

Adikku beranjak dari kursi putarnya dan mencari buku “Anak Semua Bangsa” di lemari bukunya. Setelah itu menyerahkannya kepadaku dengan kedua tangannyaini merupakan etika saat menyerahkan barang dengan sopan menurut budaya Jepang.

“Ini Kak. Kalau sudah baca mau dikembalikan ke Adik atau nggak terserah Kakak. Soalnya Adik juga sudah selesai membaca seluruh ceritanya.” Adikku berbicara pelan tulus mengatakannya.

“Wah, terima kasih ya Dik Taniya. Kakak janji akan Kakak kembalikan kalau sudah selesai membacanya,” sebagai rasa terima kasihku aku bilang kepada Adikku. “Eh. Nanti siang kalau kamu lapar, turun saja ke ruang makan ya Dik. Kakak akan memasakkan makanan kesukaanmu.” Aku tersenyum gembira, mataku mulai hilang menyipit karena senyumanku. Seperti biasa aku nanti akan memasakkan Kimchi, Tteobokki, dan Kimbab.

“Hee. Beneran ini Kak?! Makasih banyak Kakakku tersayang,” dia seketika memelukku, aku balas memeluk bahunya pelan dengan tangan kananku. “Iya Adik nanti siang kalau lapar segera turun ke ruang makan Kak. Akan Adik habiskan makanan buatan kakak semuanya.” Kami melepas pelukan

“Jangan lupa lho. Kamu kalau keasyikkan nulis cerita kadang sampai lupa makan.” Aku mengingatkan Adik dengan tersenyum tipis.

“Hehehe kalau yang dihidangkan makanan kesukaanku, aku nggak bakalan lupa makan Kak.”

“Oke. Kakak balik kamar dulu ya. Kamu semangat nulis ceritanya, kalau sudah jadi jangan lupa dilihatin ke Kak Tafta ya. Kalau bisa Kak Tafta orang pertama yang membacanya. Dik.”

“Iya deh nanti Kak Tafta dulu, baru Dik Taniya lihatin ke teman SMA Adik.”

Aku bergegas keluar kamar Adikku, menuju kembali ke kamarku. Ah, sepertinya Adikku berbakat menulis cerita juga.

 

-Dimastafta (2020)

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makhluk Rendahan

Setelah sekian pekan tidak hujan, malam itu turun hujan tidak terlalu deras. Aku meraih handphone yang kuletakkan di lemari, kemudian berjalan menuju sofa terdekat. Sambil memandangi hujan, aku terduduk membuka kata sandi handphone-ku. Tujuan awalku adalah untuk menyiram tanaman di salah satu aplikasi belanja online. Namun kemudian, aku tak sengaja membuka status teman seangkatan di WA. "Hmm, ada yang mengunggah foto/video dirinya berbingkaikan universitas pilihannya di IG." Gumamku dalam batin.   Aku penasaran! Andaikan ada mahasiswa yang tidak punya IG----seperti aku---apakah mahasiswa tersebut dipaksa untuk mengunggah juga. Rasanya tidak juga, eh, tapi mungkin juga ya. Hmmm... sulit untuk kusimpulkan sendiri. Mungkin kesimpulan yang paling tempat adalah tergatung dosen/petinggi universitas tersebut. Tapi, sebenarnya aku tidak pantas membicarakan ini, hanya saja untuk sampingan mengisi waktu sambil mendengarkan hujan. "Huh, ya. Manusia rendahan sepertiku---yang belum m...

Hanya Sebuah Catatan Perjalanan Seseorang yang Lulus Tahun 2020

  EPISODE 一 AWAL YANG MENYEDIHKAN   "H UH. Kenapa jadi begini?" Dengusanku dengan nada sedih campur sebal tersebut keluar sesaat setelah aku melihat pengumuman resmi salah satu perguruan tinggi kedinasan tentang moratorium. Sesaat hatiku terasa sakit mengetahui hal tersebut. Karena sudah sejak kelas 11 SMA aku menginginkan, sebenarnya bukan aku tetapi Ibuku. Beliau menginginkanku ー sebagai anak sulung, laki pula, harus langsung kerja setelah pendidikan ー untuk masuk ke salah satu kedinasan tersebut, aku tanpa ragu juga menyetujuinya. Karena sudah sepatutnya sebagai anak harus berbakti selama tidak disuruh melakukan perbuatan tercela. Saat kelas 11 SMA awal Beliau sudah mencari info tentang tempat les yang nantinya untuk memudahkan tes masuk sekolah kedinasan tersebut. Setelah naik kelas 12 aku langsung didaftarkan oleh Ibuku. Aku juga mengikuti perintah Ibu walaupun harus pulang-pergi antarkota, tapi demi masa depan aku senang menjalaninya. Tibalah hari menjelang pe...

Kebahagian adalah?

幸せとは "Apakah itu artinya  kebahagian ?" Tanya dia. "Entahlah, aku juga tidak mengerti apa yang kamu katakan barusan." Jawabku dengan menaikkan salah satu alis. "Yaudah yuk cari artinya di KBBI." Ajak dia. "Jadi, kamu percaya pengertian  kebahagian  dari KBBI?!" Aku bertanya dengan nada agak tinggi. "Ya sebenarnya definisi yang kudapat dari KBBI cuma buat di kuliah aja sih. Aku lebih suka memilih definisi  bahagia  dari dalam hatiku." Jawab dia. "Aku juga setuju, tetapi apapun definisi  kebahagiaan  dari dalam hatimu. Kamu harus tetap  SEMANGAT  menjalani hidup ya!" Balasku dengan agak semangat. -Dimastafta (2020)