Langsung ke konten utama

Persahabatan dalam Pertandingan

EPISODE I

Pada saat itu, gue masih kelas 1 SD umur 6 tahun. Gue sedang main game sepak bola, waktu itu jamannya Playstation 1. Gue gak kalah sama anak-anak yang lain, gue jago main bola. Ternyata, suatu hari gue dikalahin sama temen gue namannya  Viko. Viko itu jago banget main bolannya sampe-sampe temen sekelas pada kalah sama dia. Dia kalo main bola pasti level top player. Gue berusaha menang ngelawan si Viko. Gue mulai main bola level top player dan pertama gue main waaahhh, gue kalah, 4-0 lagi. Namanya juga belajar.

Di saat itu, gue udah siap ngelawan si Viko. Gue pakai Real Madrid dan dia pake Barcelona. Gue dan Viko sama-sama berusaha menjebol gawang. Pertandingan sih sengit, sampe-sampe gue nafasnya kayak mau habis. Di menit ke 38,5 gue menjebol gawang Viko, yang menjebol adalah Raul Gonzales. Dan Viko tidak mau kalah sama gue, Viko tidak kedip sama sekali. Dia fokus banget ingin menjebol gawang gue. Akhirnya, Viko berhasil menjebol gawang gue di menit 45+, yang menjebol adalah Xavi.

Babak pertama pun selesai, gue refreshing sebentar sama mengatur nafas. Kalau Viko push up 10 kali, biar dia menang. Ok, babak kedua pun dimulai. Pertandingannya sengit sekali, banyak temen yang nyorakin kita. Gue mulai menyerang, berlari kencang lalu di sliding tackle. Pemain Viko mendapat kartu kuning pertama.

Pertandingan berlanjut, David Beckham mengambil tendangan bebas. Tendangan bebas tersebut mengarah ke Ronaldo dan disundul oleh Ronaldo. Goooolll, 2-1. Viko melirik gue, menandakan dia tidak mau kalah sama gue. Viko mulai menyerang dan gagal. Pertandingan selesai dengan skor 2-1, gue seneng banget dan pendukung gue nyorakin gue.

“Selamat ya Dim.” kata dia.

“Iya makasih ya Vik.” Kata gue.

 Kita pun bermain dengan damai, yang menang dan kalah sama aja. Jadi kita harus menjaga persahabatan.

Gue pulang ke rumah, langsung ke kamar. Mama pun datang.

“Dari mana saja kamu dim?” tanya Mama.

“Dari rumah temen mah.” Jawab gue.

“Oh yaudah, kirain kemana.” Kata Mama dengan tersenyum.

“Iya mah, hehehe” kata gue sambil meringis.

 Mama menutup pintu, lalu pergi dan gue pun tidur.

Keesokan harinya, gue kumpul sama Restu membicarakan tentang kemarin gue sama Viko tanding.

“Eh, kemarin yang menang siapa?” tanya Restu.

“Yang menang gue” jawab gue agak malu.

“Oh, hebat banget” jawab Restu.

“Makasih bro” jawab gue.

 Gue dan Restu langsung cari makan dan minum di warung. Gue itu deket banget sama Restu kayak pohon yang berdampingan dan salah satunya gak bisa ditebang. Di hari itu, gue menghabiskan waktu bareng Restu. Seneng bareng, sedih bareng, lari bareng, jalan bareng. Waktu itu, betapa indahnya persahabatanku dengan Restu. Gue udah lelah dan Restu juga lelah. Akhirnya, kita pulang ke rumah masing-masing.

Gue gak nyadar bahwa gue sama Restu lagi seneng – seneng, sedangkan Viko sedang serius main game bola. Pertandingan gue dan Viko tidak berakhir begitu saja, Viko berusaha dengan keras untuk ngalahin gue. Biasa Viko pakai klub barcelona dengan bintang adalannya yaitu Lionel Messi. Gue juga gak kalah gue punya klub favorit yaitu Real Madrid dengan pemain adalan gue Raul Gonzales. Gue heran sama Viko, kalo dia main pasti ngomong” sendiri, senyum” sendiri gak jelas gitu deh.

Gue sepulang dari jalan bareng Restu, langsung main game bola. Merasa gak mau kalah sama Viko. Dan keesokan harinya gue bertanding lagi sama Viko. Viko memasang muka agak keras, dan gue memasang muka senyum, kayak orang habis dapet nilai 100. Gue santai aja, dengan langkah yang setiap langkahnya 20cm. Pertandingan pun akan dimulai, seperti biasa gue pakai Real Madrid dan Viko pakai klub Barcelona. Di menu formation pemain Viko biru semua, gue tertawa sedikit sambil gue tahan. Gue memakai formasi 4-3-3.

‘Udah siap Vik?’ tanya gue.

‘Ya, gue siap.’ Jawab dia.

Pertandingan pun sudah dimulai, babak pertama. Pertandingan sangat sengit, Viko memakai taktik mengoper-oper bola. Jadi, membuat gue bingung. Di sebuah kesempatan, gue menyliding salah satu pemain, dan ternyata kena bola. Dan gue menguasai bolanya, gue lari dengan mengoper-oper bola menuju gawang. Ronaldo bersiap menendang bola.

Ronaldo menendang pakek kaki kiri, dan gooll. 1-0 kedudukan sementara. Viko raut mukanya terlihat terkejut. Viko gak mau kalah, dia mulai membangun serangan balik. Dengan semangatnya pemainnya berlari dengan kencang. Xavi mendekati gawang dan mengoper ke Messi. Messi menendang, goooll 1-1 kedudukan.

‘Waahh, gila’ kata gue kaget

‘Gimana bro?’ kata Viko

‘Ayoo, lanjut’ kata gue semangat

Permainan pun berlanjut, gue berdoa supaya menang. Ronaldo menggocek – gocek bola menuju gawang lawan. Dan disana ada bek lawan, bek lawan menyliding. Ronado terjatuh, pelanggaran. Kartu kuning untuk lawan. Tendangan bebas diambil oleh Raul Gonzales. Raul Gonzales bersiap untuk menendang, cuuuss. Bola melintir menuju gawang dan oh.. bola di tinju oleh kiper lawan. Tendangan pojok, bola melambung ke atas. Raul bersiap menyundul, bola disundul Raul. Goolll 2-1. Babak pertama selesai.

‘Siap bro, babak kedua nanti’ kata dia

‘Oke, siapa takut’ kata gue

Babak kedua dimulai, gue santai menjalankan game itu. Viko tegang sekali, kita tatap – tatapan mata sangat tajam sekali setajam silet. Gue gak tau kenapa viko kayak gitu, mungkin dia lagi kesurupan kingkong ijo. Gue mulai menyerang, mendekati gawang. Raul menendang, ternyata bolanya kempes dan melintir menjauhi gawang.

‘Lho, kok bisa gitu?’ kata gue heran

‘Hahaha, kamu lagi sial kali’ kata dia

Ok, pertandingan kembali berlanjut. Suasananya mencekam gara – gara mendung yang gelap sekali. Kemudian pembantu gue ngidupin lampu, suasana jadi tidak mencekam. Gue kembali menyerang kediaman Viko, Raul berduet dengan Ronaldo mau menjebol gawang. Umpan dari Raul diteruskan Ronaldo. Gooolll 3-1. Akhirnya, pertandingan selesai. Viko akhirnya mengaku kalah.

“Dim, gue ngaku kalah.” kata dia.

“Eh, tapi kapan-kapan kita main lagi kan?” tanya gue.

“Iya.” jawab Viko.

          Viko pulang ke rumahnya, dan gue makan siang terus tidur. Pas tidur siang gue mimpi, kalau gue itu bodoh dan gila gara-gara main game terus menerus tanpa henti selama 24 jam penuh, 100 abad. Mimpi gue itu sangat mengerikan dan gue merasa agak takut.

Namun, gue abaikan itu. Memang setahu gue video game itu buat bodoh. Tetapi, dibalik semua itu video game bisa membuat kita menjadi cerdik dan lincah. Coba, kita main game bola kan memakai teknik, ketrampilan, dan kemampuan lainnya. Kalau kita main bola gak pakai trik akan kalah. Tiba – tiba pintu kebuka, Papa datang.

“Eh, ternyata kamu dah bangun.” kata Papa

“Iya Pa.” kata gue

“Yuk, makan malam dulu.” kata Papa

“Siap, Pa.” kata gue

          Kita sekeluarga makan malam bersama. Setelah selesai makan gue minum dulu, langsung ke kamar buat main video game. Yang lainnya masih pada makan. Gue menyalakan tv, terus menyalakan video game. Seperti biasa kaset yang gue pakai adalah game bola.

Gue asyik bermain tanpa melihat waktu, sampe-sampe gue gak tau pakai baju apa. Dan tiba-tiba Mama datang.

“Dimas, kamu gak belajar?” tanya Mama

“Iya, Ma. Nanti.” jawab gue.

“Dari tadi main game aja.” kata Mama.

“Iya, Ma sebentar lagi selesai.” kata gue.

“Beneran? Sebentar lagi selesai?” tanya Mama.

“Beneran Ma” jawab gue.

“Beneran lho, ini dah jam berapa?” tanya Mama.

“Ini dah jam 9 Ma.” jawab gue.

“Kamu belum belajar ya?” tanya Mama.

“Iya, Ma.” jawab gue.

 ”Belajar dulu sana.” kata Mama.

 

 

EPISODE II

 

Akhirnya, gue pun belajar dengan giat. Mata gue gak kedip sama sekali menatap tulisan yang ada di buku. Kepala gue, gue kasih ikat kepala kayak film – film gitu deh. Tiba – tiba ada yang ngelempar benda ke arah dekat jendela. Gue lalu melihat lewat jendela itu, ternyata itu adalah Viko. Viko ngajak gue main game.

“Dim, main game yuk” kata dia

“Hmm, sorry ya Vik” kata gue

“Kenapa?” tanya dia

“Gue lagi belajar, gue gak boleh main game.” jawab gue

“Oh, yaudah gak papa, belajar yang giat ya bro.” Kata dia

“Iya, Makasih bro.” kata gue

Gue menutup jendela terus melanjutkan belajar. Gue baru inget kalo ada Pr, gue mengerjakan pr itu sampe selesai. Akhirnya, prnya selesai tanpa halangan, Alhamdulillah. Gue belajar mapel lainnya yang jadwalnya di hari itu. Tiba – tiba Mama membuka pintu.

“Oh.. anak Mama lagi belajar.” kata Mama

“Iya Ma.” kata gue

“Nah, itu baru anak Mama.” kata Mama

“Iya Ma.” kata gue

“Lanjutkan belajarnya” kata Mama

 

Mama menutup pintu, dan gue ngelanjutin belajarnya. Gue belajar terus menerus, tanpa menyentuh sedikit pun video game. Gue belajar dengan serius dan penuh semangat. Kantong mata gue pun mulai membesar dan gue mulai menguap terus. Gue udah ngantuk. Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Gue menata pelajaran dan gue tidur.

Pagi harinya, gue berangkat sekolah. Guru minta menunjukkan prnya. Gue dengan santai menunjukkan pr itu dengan santai.

“Mana prmu?” tanya guru

“Ini bu.” Jawab gue

“Hebat kamu Dim” kata guru memuji gue

“Iya Makasih bu” kata gue sambil tersenyum

“Sama – sama” kata guru

Seperti biasa guru menjelaskan pelajaran, memberi tugas, membuat cerita pendek. Gue mengikuti pelajaran dengan tertib, gue serius. Gue mengikuti pelajaran dengan khidmat kayak upacara hari senin gitu.

Waktu menunjukkan pukul 11 pagi menjelang siang. Saatnya gue pulang, pulang adalah waktu yang gue tunggu – tunggu. Gue biasa dijemput orang tua. Sesampainya di rumah gue melihat video game, tapi gue gak mau main video game. Gue mau serius belajar, dan membuat cerita pendek waktu itu. Viko heran kenapa gue giat banget belajarnya.

Gue paling suka kalo buat cerita pendek, apalagi judulnya tentang binatang, wahh gue suka banget. Binatang itu imut” kaya koala, kucing, kelinci, lumba – lumba, dll. Gue gak tau kenapa gue bisa ngelupain video game begitu saja. Gue memutuskan untuk belajar. Pada saat itu Mama membuka pintu.

“Wahh, tumben belajar.” kata Mama

“Iya Ma” kata gue

“Biasanya kamu main video game kan?” tanya Mama

“Iya Ma, tapi sekarang Dimas gak main lagi Ma” jawab gue

“Kenapa? Dimas?” tanya Mama

“Dimas ingin belajar dengan giat Ma” jawab gue

“Yaudah.. Lanjutin belajarmu” kata Mama sambil tersenyum

Gue ngelanjutin belajar gue. Saat gue badmood, gue nonton tv, klo gak ya nyemil biar mood. Acara tv favorit gue dulu adalah sinchan. Sinchan itu adalah serial manga dan anime karya Yoshito Usui. Tokoh utamanya adalah seorang bocah berusia lima tahun, ia murid taman kanak-kanak yang sering membuat ulah, dan membuat repot semua orang di sekitarnya.

 

Sinchan itu lucu banget, menurut gue acara tv paling lucu waktu itu adalah sinchan. Jujur gue suka banget sama karakter Sinchan. Gue sebelum apa sesudah belajar pasti nonton Sinchan. Gue punya komik Sinchan beberapa versi.

Gue lanjut belajar, membuat cerita. Gue besok ada janji sama Restu untuk pergi ke taman. Gue mulai ngantuk kelopak mata gue kayak kantung kanguru, gue mulai menguap.

Dan gue memutuskan untuk tidur. Orang tua gue heran kenapa Dimas bisa serajin itu, padahal dulu suka main game sekarang gak pernah.

Esok harinya, hari minggu gue ke rumahnya Restu nemuin Restu untuk pergi ke taman, sesuai janji kemarin. Kita ke taman untuk refreshing sekalian belajar bareng. Kan, belajar bareng lebih seru, dari pada sendirian yang ditemani suara jangkrik.

Gue dan Restu bersepeda bersama ke alun – alun untuk beli susu kedelai dulu. Sehabis beli susu kedelai gue sama Restu langsung cuss ke taman. Di jalan gue sama Restu bercanda, curhat, bercerita, pokoknya macem”.

Sampai di taman gue langsung, memarkir sepeda, dan duduk di taman sambil membaca buku.

“Bro, cuacanya cerah ya.” kata gue

“Iya bro, mataharinya cerah banget.” kata Restu

“Tamannya rimbun banget.” Kata gue

“Iya hijau semua” kata Restu

Gue dan Restu mulai belajar, gue dan Restu membaca buku masing – masing. Gue seneng sekali bisa belajar bareng sama Restu. Suasananya beda gak kayak dirumah belajar sendirian hanya ditemani suara jangkrik. Apalagi itu di taman, udaranya segar, semuanya hijau , bersih.

Gue dan Restu sama – sama belajar dengan khidmat, tenang, serius. Ada orang lewat lalu lalang aja kita gak denger, apalagi suara jangkrik. Tiba – tiba gue mencium bau yang tidak enak, gue mencari dari mana asal bau tersebut. Ternyata bau tersebut adalah bau ketek pembersih sampah taman tersebut. Gue dan Restu merasa laper.

“Bro, lo laper gak?” tanya Restu

“Iya bro, gue laper.” Jawab gue

“Makan yuk.” Kata Restu

“Ayuukk.” Kata gue

Kita pun makan bareng di KFC terdekat gak usah jauh – jauh ntar di makan semut. Sampai di KFC, gue dan Restu langsung mesen makanan.

Makanan yang kita pesen sama yaitu chick”N fillet. Makanan sudah jadi, kita makan bersama. Betapa indahnya momen ini. Gue kenyang dan Restu juga kenyang. Kita pulang bareng, dan kita berpisah dalam pertigaan.

“Bro gua balik dulu ya, Assalamualaikum.” kata gue

“Iya bro, gue juga, Waalaikumsalam.” Kata Restu

Gue sampai dirumah, capek banget. Akhirnya gue memutuskan untuk tidur, supaya capeknya hilang. Gue tidur dengan nyenyak, malamnya gue bangun untuk belajar lagi. Liburan semester sudah semakin dekat, makanya aku harus rajin belajar.

Liburan semester ada enaknya dan ada gak enaknya. Enaknya pas liburan semester adalah kita bisa liburan kemana – mana. Gak enaknya pas liburan semester adalah kita gak dapet ilmu dari guru. Jadi, gue harus terus belajar dan lebih giat lagi. Mama membuka pintu.

“Lho, Dim kamu belum tidur?” tanya Mama

“Iya Ma, Dimas lagi belajar.” Jawab gue

“Udah aja belajarnya, besok kamu kesiangan lho” kata Mama

“Iya Ma” kata gue

Mama menutup pintu. Gue menata buku dengan rapi, sehabis itu gue langsung tidur. Gue tidur 5 jam dengan nyenyak sekali, sampe - sampe suara nyamuk gak denger. Gue mimpi pergi ke Bali bareng keluarga, pergi ke kuta beach, tanah lot dll. Mama bangunin gue kalo dah pagi.

“Dim, bangun dah pagi.” Kata Mama

“Iya Ma...” kata gue sambil membuka mata

Gak kerasa kalo seminggu lagi dah libur, gue menunggu momen ini. gue belajar dan belajar, sebelum sekolah libur. Gue di sekolah, pas jam istirahat bercanda – canda, shalat dhuha, beli jajan. Pas pulang sekolah, gue langsung ke kamar untuk tidur siang. Sehari – hari gue kayak gitu

Disaat waktu luang gue sempatkan untuk belajar. Gue tau kadang aktivitas gue full, dari jogging, sepeda – sepedaan, makan es krim dan aktivitas lainnya. Gue suka menjalakan aktivitas tersebut sebelum liburan semester. Gue tau kita setiap liburan pasti akan pergi, untuk refereshing. Menghilangkan beban, penat, dan pusing. Jadi, gue berharap liburan ini akan menyenangkan. Liburan kurang 2 hari lagi, gue seneng banget, sampe – sampe gue joged – joged gak jelas.

Hari sudah mulai malam, gue masih belajar. Mama membuka pintu.

“Dimas, besok kamu ikut kan?” tanya Mama

“Ikut ke mana Ma?” tanya gue kembali

“Besok kita liburan ke bali.” Jawab Mama

“Beneran Ma?” tanya gue

“Iya beneran.” Jawab Mama

“Iya Ma, Dimas ikut ke Bali.” Jawab gue

“Kamu siap – siap ya 2 hari lagi kita berangkat.” Kata Mama

“Oke Ma, siiiaap, laksanakan!” kata gue semangat

 

*Maaf seharusnya cerita ini masih ada lanjutannya "Pergi ke Bali III, IV, dst." berhubung filenya sudah lenyap karena harddisk laptop lama rusak. Terpaksa saya ganti judul menjadi "Persahabatan dalam Pertandingan." Terima kasih telah membaca cerita saya yang masih banyak kekurangan ini.

Dimastafta (2015)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makhluk Rendahan

Setelah sekian pekan tidak hujan, malam itu turun hujan tidak terlalu deras. Aku meraih handphone yang kuletakkan di lemari, kemudian berjalan menuju sofa terdekat. Sambil memandangi hujan, aku terduduk membuka kata sandi handphone-ku. Tujuan awalku adalah untuk menyiram tanaman di salah satu aplikasi belanja online. Namun kemudian, aku tak sengaja membuka status teman seangkatan di WA. "Hmm, ada yang mengunggah foto/video dirinya berbingkaikan universitas pilihannya di IG." Gumamku dalam batin.   Aku penasaran! Andaikan ada mahasiswa yang tidak punya IG----seperti aku---apakah mahasiswa tersebut dipaksa untuk mengunggah juga. Rasanya tidak juga, eh, tapi mungkin juga ya. Hmmm... sulit untuk kusimpulkan sendiri. Mungkin kesimpulan yang paling tempat adalah tergatung dosen/petinggi universitas tersebut. Tapi, sebenarnya aku tidak pantas membicarakan ini, hanya saja untuk sampingan mengisi waktu sambil mendengarkan hujan. "Huh, ya. Manusia rendahan sepertiku---yang belum m...

Hanya Sebuah Catatan Perjalanan Seseorang yang Lulus Tahun 2020

  EPISODE 一 AWAL YANG MENYEDIHKAN   "H UH. Kenapa jadi begini?" Dengusanku dengan nada sedih campur sebal tersebut keluar sesaat setelah aku melihat pengumuman resmi salah satu perguruan tinggi kedinasan tentang moratorium. Sesaat hatiku terasa sakit mengetahui hal tersebut. Karena sudah sejak kelas 11 SMA aku menginginkan, sebenarnya bukan aku tetapi Ibuku. Beliau menginginkanku ー sebagai anak sulung, laki pula, harus langsung kerja setelah pendidikan ー untuk masuk ke salah satu kedinasan tersebut, aku tanpa ragu juga menyetujuinya. Karena sudah sepatutnya sebagai anak harus berbakti selama tidak disuruh melakukan perbuatan tercela. Saat kelas 11 SMA awal Beliau sudah mencari info tentang tempat les yang nantinya untuk memudahkan tes masuk sekolah kedinasan tersebut. Setelah naik kelas 12 aku langsung didaftarkan oleh Ibuku. Aku juga mengikuti perintah Ibu walaupun harus pulang-pergi antarkota, tapi demi masa depan aku senang menjalaninya. Tibalah hari menjelang pe...

Kebahagian adalah?

幸せとは "Apakah itu artinya  kebahagian ?" Tanya dia. "Entahlah, aku juga tidak mengerti apa yang kamu katakan barusan." Jawabku dengan menaikkan salah satu alis. "Yaudah yuk cari artinya di KBBI." Ajak dia. "Jadi, kamu percaya pengertian  kebahagian  dari KBBI?!" Aku bertanya dengan nada agak tinggi. "Ya sebenarnya definisi yang kudapat dari KBBI cuma buat di kuliah aja sih. Aku lebih suka memilih definisi  bahagia  dari dalam hatiku." Jawab dia. "Aku juga setuju, tetapi apapun definisi  kebahagiaan  dari dalam hatimu. Kamu harus tetap  SEMANGAT  menjalani hidup ya!" Balasku dengan agak semangat. -Dimastafta (2020)